H-3


Ya h-3 sebelum Ramadhan tiba. Terasa sekali sejak Kau tandai bulan itu dengan gerhana, Kau tandai masyarakat ini dengan nisfu sya’ban. Masyarakat yang lebih banyak mewajibkan sunnah, dan mensunnahkan kewajiban. Terasa sekali, bulan itu penuh. Bulan itu bulat. Ku ikuti terus bulan itu ketika ku berjalan ke masjid untuk shalat Subuh. Bulan itu semakin menghilang, bulan setengah, bulan sabit, dan semakin menghilang. Langit itu mencerahkan wajahnya sehingga bisa ku tatap bulan itu dengan mata telanjang. Langit itu tak lagi mendung walau sehari sebelumnya hujan telah datang.

Ku gapai fajar menyingsing pun dengan cerahnya. Matahari itu bulat, dan menampakkan kebulatannya, lagi-lagi dengan mata telanjang. Gairah fotografer ku menggeliat, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Hanya kamera saku yang ku punya.

H-3, semakin menyakinkan. Matahari tetap membulat, dan bulan itu semakin menghilang, dan mungkin sampai awal bulan yang agung itu. Awal bulan Ramadhan. Ku ingin menggapianya sehingga bisa ku tatap lagi bulan yang semakin hari semakin menampakkan giginya, walau matahari tak lagi menampakkan kebulatannya.

Ya Allah, hiasilah hatiku dengan cintaku kepada Ramadhan Mu, seperti cintanya para Rasul dan sahabatnya mencintai bulan Ramadhan itu.

Dan bangkitkanlah semangat saudaraku untuk bangun shalat Subuh ke masjid dan menatap bulan yang muncul dan menghilang, dan menatap fajar yang menyingsing, dengan atau tanpa kebulatannya.

Dan tampakanlah kepada kami kebangkitan Islam di wajah kami, agar kami semakin rindu untuk bertemu dengan Mu. Amin

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: