Ketika bersenang-senang bernilai pahala :)


Teringat kisah Sahabat ketika Hanzhalah ra bertemu dengan Abu Bakar ra,

“Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik.”

Jelas, saat itu Abu Bakar bingung dengan klaim Hanzhalah tentang kemunafikannya. Hanzhalah pun menjelaskan kenapa demikian, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah saw, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku.”

Waw, beginilah mereka, para Sahabat Rasulullah yang sangat menjaga keimanannya. Untuk sekedar tertawa dan bermain bersama keluarga saja sangat diperhatikannya, agar tidak melalaikan keimanannya. Abu Bakar pun merasakan hal yang sama sehingga mereka berdua menemui Rasulullah saw.

Beliau pun bersabda, “Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu.”[1]

Inilah manusia dengan fitrahnya. Kita bukan malaikat, yang ketika diperintahkan bersujud oleh Allah maka akan bersujud selamanya perintah itu berlangsung, tanpa ada rasa jenuh. Kita ini manusia, yang Allah juga tau kita ini manusia, yang juga butuh kesenangan. Maka ada hal-hal yang wajib sehingga Allah perintahkan, ada hal-hal yang haram sehingga Allah larang, dan ada hal-hal yang mubah sehingga Allah bolehkan.

Kita akan berdosa ketika meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang haram, dan akan mendapat pahala jika mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram. Namun yang wajib jika dilakukan secara berlebihan bisa menyebabkan kita berdosa. Contohnya, jika kita diperintahkan untuk shalat Magrib 3 rakaat, ya jangan ditambah menjadi 4 rakaat. Bid’ah namanya[2].

Hal yang mubah bisa bernilai pahala tetapi jika berlebihan akan membuat kita dekat dengan dosa[3]. Tertawa atau bersenda gurau dengan dengan keluarga atau teman adalah sesuatu yang mubah karena membuat kita terhindar dari kejenuhan, tetapi jangan dilakukan berlebihan sehingga mematikan hati dan pikiran[4] atau bahkan jatuh ke jurang neraka[5].

Nah ada juga saat ketika bersenang-senang bisa bernilai pahala. Yaitu saat bersetubuh dengan pasangannya yang sudah halal dengan akad nikah[6]. Mau?

Terus kamu kapan Man? Langsung aja deh bertanya sendiri, sebelum ditanya duluan. Jawabnya, “Insya Allah, akan indah pada waktunya!”🙂


[1] Hanzhalah berkata; Suatu ketika, kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menyebutkan tentang surga dan neraka, hingga seolah-olah mata melihatnya. Setelah itu saya beranjak pulang menemui keluargaku, dan saat itu aku pun tertawa bersama isteri dan anakku. Kemudian aku teringat, akan perasaanku saat berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku keluar dan berjumpa dengan Abu Bakr. Aku pun berkata, “Wahai Abu Bakr, Hanzhalah telah munafik.” Ia bertanya, “Kenapa bisa begitu?” saya berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami surga dan neraka hingga seakan-akan mata melihatnya. Namun setelah itu, saya pulang menemui keluargaku, dan saya pun tertawa dan bermain-main bersama anak dan isteriku.” Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya kami juga melakukan hal yang demikian.” Maka aku pun menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menuturkan hal itu pada beliau. Beliau bersabda: “Wahai Hanzhalah, sekiranya saat kalian berada di rumah-rumah kalian, sebagaimana saat kalian berada di sisiku, niscaya malaikat akan menyalami kalian. Dan saat kalian berada di rumah atau di jalan, maka (ingatlah sewaktu) waktu.” (HR. Ahmad)

[2] “Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ad-Darimy)

[3] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.( QS. Al Isra’ (17): 27)

[4] “Berhati-hatilah dengan banyak tertawa sebab ia menyebabkan hati menjadi mati” (HR. Shohih Al Jami)

[5] Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66].

[6] Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

, , , , , , , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: