“Ada fulus semua mulus, tak ada fulus bisa mampus”


image

Hampir meledak tawa dari jamaah shalat Jumat tadi siang saat sang Khatib mengeluarkan kalimat seperti judul di atas. Sang Khatib sedang memprotes kondisi da’i saat ini yang suka memasang tarif untuk memberikan ceramah. Sedangkan salah satu ciri kondisi akhir zaman adalah ketika din (agama) sangat bergantung dengan dinar (uang). Namun hal ini harus dilihat secara komprehensif.

Ini satu hal yang menarik di Indonesia. Ustadz, Da’i, Kiyai, atau Ulama bisa menjadi sebuah profesi karena mereka dianggap mempunyai penghasilan dari ceramah-ceramahnya. Mereka tidak dijamin hidupnya untuk berdakwah. Padahal mereka itu adalah penerus para Nabi. Dalam sebuah negeri muslim orang-orang seperti mereka akan ditanggung oleh negara melalui Baitul Mal dengan gaji di atas rata-rata. Mereka orang-orang berilmu yang dihormati dan dimuliakan. Di Arab Saudi mereka digaji besar oleh negara. Sedangkan di Turki banyak da’i-da’i muda yang dikader untuk berdakwah tidak hanya di negaranya tetapi juga ketika berdakwah ke berbagai negara lainnya. Bahkan ketika mereka menikah dan berkeluarga akan ditanggung hidupnya, namun bukan oleh negara, tetapi oleh sebuah yayasan yang mampu mengumpulkan dana zakat dari  masyarakat Muslim disana.

Pada dasarnya agama ini memang melarang ulama untuk menjual ayat-ayat Allah. Atau dengan kata lain, memasang tarif untuk setiap ceramah-ceramah yang dilakukannya. Namun agama ini tidak pernah menyulitkan umatnya. Bahkan disyariatkan jika ada 2 pilihan untuk mengambil yang mudah dibandingkan yang sulit. Sehingga ada satu kaidah fikih, ‘Kesulitan mendatangkan Kemudahan’. Jika sulit menjalani hidup karena harus berdakwah, maka dibolehkan untuk menerima upah darinya bahkan bertransaksi karenanya.  Oleh karena itu saya tidak pernah melihat langsung ada ulama atau da’i yang memasang tarif untuk ceramahnya, mereka akan menerima berapa saja isi amplop yang diberikan oleh pengurus masjid. Sedangkan mereka baru memasang tarif jika akan mengadakan training atau mengajar formal dikelas seperti sekolah atau universitas.

Sudah seharusnya kita memuliakan orang-orang berilmu dan meninggikan derajatnya. Sehingga tanpa memasang tarifpun kita seharusnya sudah berinisiatif menghargai mereka dengan layak dalam bentuk uang atau apapun.

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: