Push the Limit – maka menjadi Raja bukanlah sebuah kemustahilan


Bismillahirrahmanirrahim

Hidup ini begitu singkat. Sudah 27 kali saya mengulang tahun di dalam hidup saya, tetapi masih terasa belum berarti melewati semua yang dijalankan. Terkenang kuat saat dimana saya menjalankan  kehidupan masih kanak-kanak, kemudian masuk sekolah dasar, SMP, SMA, sampai menyelesaikan kuliah selama 5 tahun untuk S1 dan 2 tahun untuk S2. Tidak lupa juga ketika saya mengisi waktu-waktu kosong saya dengan mengikuti TPA (Taman Pendidikan Al Quran), Latihan Marawis, Bimbingan Belajar, Kursus Komputer dan Bahasa Inggris, menjadi anggota Paskibraka, dan menghilangkan dahaga otak saya dengan banyak membaca buku di perpustakaan-perpustakaan milik sekolah, kampus, bahkan milik Pemerintah. Tetapi semuanya itu ternyata begitu cepat berlalu dan masing-masing memberi kesan dan pengalaman tersendiri bagi saya, terutama bagi pembentukan pribadi saya menjadi sekarang ini.

Di saat saya mulai merasa jenuh melewati apa yang saya jalankan tersebut, maka disaat itu pula saya biasanya segera ingin menyelesaikan itu semua dan kemudian mencari kesibukan baru, mencari pengalaman baru, mencari ilmu baru, untuk mendapat rasa yang baru, pikiran yang baru, jiwa yang baru. Di saat saya mencoba untuk berkompromi pada tubuh untuk mencoba mengistirahatkan hati dan pikiran serta jiwa dan raga ini, tetapi di saat itu pula saya merasa kelelahan jika harus berleha-leha menghindar dari kesibukan-kesibukan yang biasa saya jalani. Rasanya lebih baik saya lelah duduk di tempat kerja atau tempat belajar daripada saya tersiksa tidur di atas ranjang atau mengucilkan diri dari berbagai kegiatan.

Maka semakin padatlah setiap hari yang dijalankan, semakin terasa dunia mengejar dan semakin terhimpit oleh waktu yang siap melibas seperti samurai. Di saat seperti itu, tetap saja masih sempat berpikir, apakah masih kuat saya menjalankan semua ini? “Push the limit”, itu teorinya. Bagaimana mungkin saya tahu batas-batas kekuatan saya jika saya berhenti berjalan menuju batas-batas itu? Atau bahkan, bagaimana saya bisa menganggap itu adalah batas kekuatan saya jika saya bisa terus menembus batas-batas itu, menembus batas-batas itu, dan terus menembus batas-batas itu? Bukankah manusia terus berkembang setelah melewati batas-batas yang dianggap tidak mungkin sebelumnya? Bukankah abad demi abad atau peradaban demi peradaban,  dilewati dengan sekian kali batas-batas jaman ditembus oleh usaha-usaha atau penemuan-penemuan yang dianggap mustahil sebelumnya?

Ketika saya dulu belum bisa membaca, saya belajar hingga bisa membaca bahkan menulis dan menyusun kalimat hingga paragraf menjadi tulisan seperti ini. Ketika saya berhasil melewati pendidikan di sekolah dasar, ternyata saya juga mampu melewati pendidikan SMP, SMA, dan Kuliah. Ketika saya pernah merasa kesulitan memulai belajar matematika, ternyata saya juga mampu melewati pelajaran aljabar linier dengan cukup baik. Ketika saya sempat terjatuh-jatuh belajar menaiki sepeda, ternyata sekarang saya sudah begitu gesit berkendara motor di jalan raya. Ketika saya merasa apa-apa yang dulu saya tidak bisa melewatinya, nyatanya sedikit demi sedikit saya bisa melewatinya bahkan menguasainya dengan baik, dengan satu syarat, jangan pernah merasa bahwa saya sudah berada pada batas-batas yang tidak mungkin saya melewatinya lagi. Bahkan ketika saya masih sempat harus berpikir demikian, maka menembus batas adalah teori yang perlu dipraktekkan hingga saya berkembang dan merasa aneh kemana batas-batas yang sempat saya pikirkan kemarin.

Pada akhirnya, orang kecil akan terus melakukan pekerjaan kecil dan menganggap dirinya tak mampu mengerjakan pekerjaan besar, dan orang besar akan terus bersiap menjadi orang besar dengan pekerjaan-pekerjaan besar yang akan diamanahkan kepadanya, termasuk menyelesaikan pekerjaan kecil yang masih juga belum diselesaikan oleh orang-orang kecil.

Maka menjadi Raja bukanlah sebuah kemustahilan.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: