Berbakti kepada orang tua walau sudah berkeluarga,,


Bismillahirrahmanirrahim

Kita sebagai manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Kita tidak bisa hidup sendiri di dunia, pasti sangat bergantung dengan lainnya. People must to connect with others. Tidak ada manusia yang mandiri, yang hidup tanpa berhubungan dengan manusia yang lainnya. Sejak lahir saja, manusia sudah membutuhkan orang lain untuk membesarkannya. Bahkan ketika meninggal pun, tetap membutuhkan orang lain untuk menguburkannya. Tentang rizki misalnya,walaupun Allah menjamin rizki bagi setiap makhluk yang diciptakanNya, tetapi sunatullahnya, sudah menjadi ketentuanNya bahwa setiap manusia harus berikhtiar untuk mendapatkannya, harus bekerja bersama dengan yang lainnya untuk menjemput rizki yang Allah limpahkan ke dunia ini. Begitulah bersyarikah, bermuamalah.

Untuk beribadah juga demikian, kalau kita shalat berjamaah menjadi makmum maka kita butuh imamnya, juga butuh muadzin yang mengingatkan waktu shalat. Bahkan ketika kita shalat sendirian, kita tetap masih butuh orang lain yang membuatkan pakaian yang kita beli untuk kita pakai, juga yang membuat sarung, peci, sajadah, dlsb.
Maka jangan pernah menganggap remeh tentang bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, terutama yang ada disekitar kita.

Dalam berkeluarga misalnya, sehebat apapun manusia dengan segala kelebihannya diciptakan, pasti tetap membutuhkan keluarganya untuk mendapatkan bantuan moril maupun materiil. Tidak mungkin salah, kalau Rasulullah saw memuliakan seorang ibu dengan menisbahkan surga dibawah telapak kakinya. Karena ternyata sehebat-hebatnya seorang manusia itu tetap saja akan melalui proses yang sama dengan manusia yang lain pada umumnya, yang dikandung selama 9 bulan, disusui, dirawat, dijaga dan dibesarkan sampai semampu-mampunya seorang ibu melakukannya tanpa pamrih. Juga tidak mungkin salah ketika seorang anak diwajibkan untuk birrulwaalidain, berbakti kepada kedua orangtuanya, kepada ibu dan bapaknya. Bahkan kita diajarkan untuk tidak berkata ‘ah’, mengeluh kepada orang tua, apalagi menghardiknya atau melawannya.

Berhubungan dengan mereka bukan hanya tentang berkomunikasi, tetapi  tentang bagaimana menghormati dan taat kepadanya. Tidak hanya ketika kita masih bersama mereka dalam satu rumah, masih semeja saat bersantap makan, masih dibiayai sekolahnya dan kemudian diantarkan ke pelaminan, tetapi juga ketika kita sudah berkeluarga, hidup terpisah dari mereka, terlebih bagi laki-laki, sedangkan untuk wanita tentu diwajibkan untuk lebih taat kepada suaminya. .

Saya, seorang anak yang masih terus belajar untuk melakukan itu semua. Kesalahan saya adalah masih bersabar untuk bisa menuruti kemauan mereka, bukan malah bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada mereka.
image
Sebelum saya menikah, list panjang dari mereka yang ditulis di papan tulis dan dipajang di ruang tengah, sudah menunggu untuk dituruti. Tugas saya sebenarnya sangat sederhana, sebagai satu-satunya anggota keluarga yang bisa membawa mobil, yaitu mengantar mereka ke tempat tujuan mereka. Tentu tidak mudah bagi saya, yang sudah mempunyai berbagai jadwal kegiatan dari Senin sampai Senin lagi, dari pagi sampai ketemu pagi lagi (lebay..:). Bahkan jadwal kegiatan tersebut sudah saya berikan kepada mereka atas permintaan mereka agar bisa menyesuaikan jadwal diantara kami.

Namun atas bersabarnya saya untuk menuruti kemauan-kemauan mereka ini, membuat saya belakangan ini terus belajar bersyukur atas hikmah yang saya dapat. Karena justru dengan menuruti mereka, saya diberi jalan atau cara untuk bisa berbakti kepada mereka, juga untuk berkenalan dan bersilaturahim dengan saudara dan juga kerabat-kerabat mereka. Seandainya orang tua saya bisa membawa mobilnya sendiri, mungkin saya akan sering meninggalkan berbagai acara pertemuan keluarga dan akhirnya berkurang kebaikan saya dari silaturahim yang seharusnya banya yang bisa saya ikuti.

Ketika saya sudah menikah, list panjang itu sudah semakin berkurang selain karena  memang saya tidak tinggal lagi serumah, mereka juga pasti tahu bahwa sekarang saya sudah berkeluarga dengan kewajiban saya sebagai laki-laki yang pasti bertambah. Sehingga ketika saya menjadi pilihan terakhir mereka untuk diandalkan, saya tetap harus bersiap untuk berbakti kepadanya walau kadang harus mengorbankan segala rencana yang sudah dijadwalkan sebelumnya.
image

Toh, saya tidak harus seperti Nabi Ismail as yang menceraikan istrinya karena isyarat ketidaksukaan bapaknya, Nabi Ibrahim as, kepada istrinya, atau harus ikhlas menerima Nabi Ibrahim as menjalankan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Juga tidak harus sampai seperti Abdullah bin Amr bin Ash yang menuruti perintah bapaknya, Amr bin Ash, untuk berperang melawan Ali bin Abi Thalib ra, karena Abdullah selalu ingat nasihat Rasulullah saw untuk selalu menaati bapaknya, Amr bin Ash. Pun, saya tidak sampai seperti seorang Sahabat Rasul yang tetap berbakti kepada ibunya walau diperintah oleh ibunya untuk meninggalkan ajaran Rasulullah.

Saya bersyukur kepada Allah swt karena dikaruniai istri yang shalihah yang sangat memahami tentang ini semua, membuat segala kebaikan menjadi mudah untuk ditentukan skala prioritasnya.

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: