“Abi pernah korupsi?”


“Abi pernah korupsi?”
Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut mungil anakku yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Rupanya berita televisi tadi pagi yang sedang disimak oleh istriku, disimak pula oleh anakku yang sedang sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolahnya.
“Memang ade tau korupsi itu apa?”, tanyaku sambil mengelus lembut kepalanya.
“Taauuu,,korupsi itu mengambil hak orang lain atau menerima sesuatu yang bukan haknya”
Aku terhenyak sesaat, ku toleh wajahku ke arah istriku yang juga sedang duduk bersama kami. Memang seperti biasa, setelah mengaji bersama ba’da magrib, kita sempatkan pula untuk berdiskusi atau membicarakan aktivitas-aktivitas keseharian kita.
“Wah pintar, pasti umi yang mengajari yaa?”, ku lepaskan tanya dan senyum lebar ke anakku dan disambut dengan anggukan kepalanya.
“Sebentar ya, abi ingat-ingat dulu, pernah ga ya abi korupsi….hmmmm”
Akupun berpikir keras tentang hal ini. Apakah aktifitas dakwah yang selama ini ku jalani masih menyempatkan diriku untuk berbuat korupsi?
Tanpa sadar kemudian ku menitikkan air mata. Aku beristighfar dan kubentangkan tanganku untuk ku peluk anakku.
“Abi kenapa nangis?”, tanyanya setelah menyambut hangat pelukku sambil berdiri.
Istriku pun menatapku heran sambil mendekat duduk disebelahku dan mengusap pundakku.
Ku tahan tangisku dan ku dudukkan anakku.
“Terima kasih ya, ade sudah menanyakan hal ini ke abi. Abi jadi teringat, ternyata belakangan ini abi korupsi karena abi sudah mengambil hak ruhiyah abi. Dulu, hampir tidak pernah abi meninggalkan shalat 5 waktu berjamaah di masjid termasuk shalat rawatibnya. Hampir tidak pernah lupa untuk shalat Dhuha minimal 2 rakaat setiap hari. Puasa Senin-Kamis juga abi jalani. Bahkan sebelum sahur, abi masih menyempatkan qiyamullail. Setiap ba’da subuh minimal setengah juz Al Qur’an yang abi baca. Namun disaat jasadiyah abi ini disibukkan oleh aktifitas yang begitu luar biasa dahsyatnya di luar sana, aktifitas ruhiyah abi malah berkurang. Berkurang jauuuuh sekali”.
Sadar dengan ketidakpahaman dari wajah polos anakku, istriku pun memotong curahan hatiku. “Ya sudah, abi kan sudah istighfar tadi, sekarang tingkatin lagi aktifitas ruhiyahnya ya, jangan korupsi lagi.”
“Iyaa, abi jangan korupsi lagi, biar ga di penjara nanti.”
Akupun tersenyum sambil mengangguk-nganggukkan kepala, namun air mataku kembali tak terbendung. Istriku pun meraihku dan memelukku sambil mengajak anakku kedalam pelukannya. Kami pun berpelukkan saling menguatkan dengan penuh hangat dan kasih sayang.

Cerpen
31012013
Srengseng Sawah

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: