“Ketua baru terpilih, Musibah!”


image

Sabtu pagi ini begitu cerah, namun wajah murung anakku masih saja terlihat dari semalam. Namun karena aku pulang agak larut malam, belum sempat aku menanyakan kabarnya. Maka setelah sarapan pagi ini ku maanfatkan untuk mengobrol dengannya.
“Nak, ayo kesini ngobrol sama abi di ruang tamu !”
Anakku kini sudah besar, sudah kelas 2 SMA. Sudah senang mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan. Sudah pandai mengungkapkan argumen-argumen dari suatu masalah dan sudah tak mudah lagi untuk didebat. Memang dari kecil ku bentuk dirinya demikian agar kelak menjadi pemimpin yang hebat. Tidak mudah memang, namun aku akan selalu berada disampingnya untuk melatihnya. Sehingga menjadi salju yang akan melembutkan hatinya dikala bergelora emosinya dan menjadi api untuk membakar semangatnya dikala lelah jiwanya.
“Ketua baru terpilih, Musibah!”, jawabnya.
Rupanya itu yang menyebabkan anakku murung. Namun aku masih tidak mengerti, karena selama ini anakku yang sering mengkiritik kepemimpinan Ketua OSIS di sekolahnya. Lalu ketika Ketua OSIS ini diganti, kenapa anakku tidak senang?
“Karena ade yang jadi ketuanya!”, jelasnya.
Kami terdiam sesaat. Sampai kemudian anakku melanjutkan penjelasannya.
“Ade terpilih secara aklamasi. Namun ade tidak merasa mempunyai kapasitas untuk memimpin. Masih ada yang lain yang lebih mampu dari ade. Penunjukkan ade pun atas pengaruh salah seorang guru yang jengah dengan kritikan ade selama ini tentang dana sumbangan yang digunakan Bakti Sosial pada kegiatan OSIS. Guru itu ingin ade merasakan menjadi Ketua OSIS tidak semudah dengan apa yang dipikirkan. Dan yang paling penting, bukankah setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak? Itu yang paling ade takutkan!”
Ku tarik nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat untuk mencambuk jiwanya.
“Jangan seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu!”
“Abiiii..kok bicara seperti itu sih?”, istriku yang dari tadi menyimak pembicaraan kami dari balik dapur menegurku sambil melangkah dan kemudian duduk disampingku.
“Itu cuma peribahasa umiii…”, jelasku.
Tetapi memang sengaja aku pilih kata-kata itu untuk membakar semangat anakku.
“Jangan seperti tong kosong nyaring bunyinya!”, lanjutku. “Jangan seperti mereka yang di luar sana yang hanya bisa berkomentar tanpa memberi solusi, yang hanya bisa mengkritik karena hasad dihati, yang hanya bisa memfitnah, mencaci, dan memaki karena itu pekerjaan yang mereka sukai. Atau jangan-jangan kamu memang seperti mereka?”
Wajah anakku terlihat geram, memberi jawaban tidak. Tetapi tidak sempat terlontar jawaban itu dari mulutnya karena sedang bergejolak hatinya.
“Buktikan kalau kamu memang tidak seperti mereka. Buktikan bahwa kamu bisa memimpin dengan lebih baik dari yang sebelumnya dan kemudian bisa memberi manfaat dari apa yang kamu miliki. Lalu kenapa harus takut? Apakah kamu sudah lupa hadits arbain ke 19?”
Anakku menggelengkan kepalanya.
“Apa yang Rasulullah ajarkan?”, tanyaku.
” ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan bahaya kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’*”, jawabnya mantap.
“Jika kita sudah dekat dengan Allah, apa yang harus kita takutkan?”, tegasku.
Anakku mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
Hari ini satu episode kehidupan kembali kami lewati untuk saling menguatkan,  saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Cerpen
02022013
Srengseng Sawah

*HR. Tirmidzi

, , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: