Jokowi for President ?


Situ Mangga Bolong, Sebelum vs Setelah Jokowi memimpin

Salah satu yang menghebohkan dalam penyalonan presiden adalah Capres dari PDIP, Joko Widodo alias Jokowi yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta. Beliau dicintai sekaligus dibenci oleh para politisi maupun masyarakat, terutama masyarakat Jakarta.
Dicintai oleh masyarakat karena dianggap dekat dengan mereka. Gaya blusukannya mengundang simpati, apalagi dengan dukungan media yang terus meliputnya mulai dari turun ke gorong-gorong saluran air di Bundaran HI sampai turun dari mobil saat tidak tahan kencing karena terjebak kemacetan. Dicintai oleh para politisi karena popularitasnya turut mendongkrak suara partai yang mendukungnya. Hasil kerjanya pun tidak sedikit. Contoh yang ada di depan mata saya adalah Situ Mangga Bolong, Srengseng Sawah. Foto danau sebelum Jokowi memimpin, kondisinya cukup parah; terjadi pendangkalan karena banyak tambak buatan warga, banyak eceng gondoknya, diperparah dengan banyaknya buangan sampah warga. Saya foto area ini karena ingin saya laporkan ke Pak RT, RW atau Lurah untuk diambil tindakan. Belum sempat rencana itu saya lakukan, tidak lama setelah itu terjadi lelang jabatan di Pemda DKI. Kemudian terjadi pergantian Lurah Srengseng Sawah, dan hasilnya seperti terlihat di dalam foto. Terima kasih pak Jokowi dan semua yang terlibat didalamnya untuk perubahan ini. Dengan bangga saya katakan demikian, karena memang saya menikmati taman di sekitar danau ini.

image

Program Kecil yang Sukses

Tetapi maaf, kalau hanya program-program seperti ini yang diunggulkan untuk menjadi Calon Presiden RI 2014, nanti dulu. Gubernur DKI sebelumnya, Foke pun sudah banyak menghasilkan perubahan. Saya bisa list banyak perubahan yang dilakukan oleh Foke apalagi hanya dalam hal pembuatan taman, pengerukan danau atau normalisasi sungai. Tetapi sudah, lupakanlah Foke yang sudah terlanjur tidak akrab dengan media sehingga berita-berita tentangnya seringkali bernada negatif. Namun memang faktanya Jokowi belum melakukan perubahan yang signifikan untuk masyarakat Jakarta. Perubahan-perubahan kecil yang ada itu seperti terlihat besar karena memang dukungan media yang besar untuk memblow-up-nya dan mengundang simpati rakyat Indonesia. Padahal dua masalah besar DKI Jakarta, kemacetan dan banjir belum teratasi. Justru ini yang kemudian membuat Jokowi dibenci, ketika beliau mencalonkan diri sebagai Presiden RI 2014. Dibenci oleh masyarakat yang memilihnya yang merasa dikhianati karena tidak menyelesaikan masa kerjanya sebagai Gubernur DKI paling tidak untuk satu periode saja untuk sedikit melakukan perbaikan terhadap dua masalah besar tersebut. Tidak seperti di Solo ketika beliau menjabat sebagai Walikota di periode kedua kemudian mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI. Masyarakat Solo sudah merasakan kepemimpinannya selama satu periode dan akhirnya ikhlas untuk melepas beliau untuk memimpin Jakarta.
Dibenci oleh para politisi, terutama politisi dari partai yang dulu mendukung Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI. Karena calon presiden yang diusung partainya merasa dikangkangi oleh Jokowi yang malah akhirnya juga ikut dalam bursa pencapresan.

Calon Presiden itu bukan Presiden

Herannya, Jokowi ini baru jadi Calon Presiden! bukan Presiden! Partai yang mengusungnya, PDIP pun belum tentu mendapatkan suara yang cukup di pemilihan legislatif 9 April 2014 untuk kemudian mengusungnya sendiri menjadi Calon Presiden di pemilihan presiden 9 Juni 2014. Walau hasil survey belakangan ini PDIP selalu berada dalam tiga besar, belum tentu pada pemilihan legislatif nanti mendapatkan hasil yang sama. Bukan tidak mungkin alasan ini yang membuat Megawati legowo untuk tidak dicalonkan kembali sebagai presiden tahun ini agar suara partainya dapat terdongkrak dengan pencapresan Jokowi yang saat ini sedang menjadi selebritis media. Bahkan acara televisi yang biasa memberitakan artis-artis pun ikut memberitakan Jokowi di dalamnya. Hasil survey pun menunjukkan elektabilitas Jokowi selalu berada di posisi teratas walaupun belum dicalonkan sebagai presiden. Tetapi survey tetaplah survey. Saya termasuk orang yang percaya hasil survey, tetapi juga percaya bahwa hasil survey tidak selalu sama dengan hasil sebenarnya pada saat pemilihan nanti. Terlalu banyak contohnya, yang terdekat adalah Pilkada DKI, dimana Foke yang selalu di posisi teratas di dalam survey tetapi dikalahkan Jokowi pada putaran pertama dan kedua di Pilkada DKI. Atau Pilpres 2004 ketika SBY berhasil mengalahkan Megawati, padahal hasil-hasil survey sebelumnya menunjukkan sebaliknya. Jadi hasil survey bisa jadi 180° berbeda dengan hasil yang sebenarnya nanti. Lalu mengapa banyak kalangan begitu risau dengan pencapresannya?

Jokowi vs Prabowo

Prabowo Subianto bersama Partai Gerindra yang mengusungnya sebagai Calon Presiden 2014 merupakan salah satu yang begitu gerah dengan pencapresan Jokowi. Bagaimana tidak, elektabilitas Prabowo di setiap survey selalu di posisi teratas sebelum Jokowi masuk dalam wacana pencapresan. Siapa sangka Jokowi yang sebelumnya didukung penuh oleh Prabowo untuk maju sebagai Gubernur DKI kini malah maju dalam perebutan kursi RI 1 dengan dukungan Megawati sebagai Ketua PDIP. Kegerahan itu semakin terlihat jelas ketika perjanjian basi 5 tahun lalu di Batu Tulis saat pencapresan Megawati-Prabowo diungkit-ungkit kembali. Lalu tiba-tiba ada masa yang berdemo di depan Balaikota dengan membawa poster JB (Jokowi Bohong) yang merasa dikhianati karena mereka mengusung JB (Jokowi Basuki) dengan slogan Jakarta Baru untuk memimpin Jakarta selama 5 tahun bukan 2 tahun kurang. Isu-isu lain digoreng, fitnah-fitnah bertebaran, dan yang membenci Jokowi pun menikmatinya. Bahkan sebuah akun Twitter yang mengatasnamakan Jasmev (Pasukan Cyber Jokowi) mengancam Ketua MUI Din Syamsudin melalui akun Twitternya yang dianggap menghina Jokowi karena pencapresannya. Apa benar seperti itu? Saya tidak tahu? Pastinya ini ulah orang-orang yang ingin menurunkan elektabilitas Jokowi sebagai Capres dan partai yang mengusungnya. Namun saya mencoba berlepas diri dari fitnah-fitnah yang ada. Berpolitik memang penuh dengan siasat, tetapi harus cerdas, elegan dan penuh dengan kesantunan. Maka tolong kritik saya jika akhlak buruk yang saya tampilkan di sini. Tetapi yang pasti memilih pemimpin adalah memilih orang yang tepat di waktu yang tepat dengan track record yang tidak cacat, demi masa depan Indonesia yang hebat. Maka wajar jika track record seorang calon itu harus diketahui sampai ke akar-akarnya. Jika anda merasa punya potensi memimpin Indonesia dengan aksi nyata atau lainnya maka silahkan umbar potensi anda. Tetapi jika anda punya kesalahan besar di masa lalu yang tak termaafkan, maka semoga anda dapat menutup kesalahan tersebut dan terus memimpin Indonesia menjadi Macan Asia. Pada akhirnya jika saya hanya dihadapkan pada dua pilihan antara Jokowi atau Prabowo maka saya akan pilih Jokowi, bukan hanya karena Situ Mangga Bolong yang sudah dirapihkannya tetapi juga karena track record Jokowi yang menurut saya lebih baik dari pada Prabowo. Selain itu, saya berprinsip untuk tidak memilih pemimpin yang sangat berambisius menjadi pemimpin. Maaf, kalau saya menilai Prabowo sangat berambisius menjadi Presiden RI. Menurut anda?

Dahlan Iskan for President 2014

Tetapi jika Dahlan Iskan kemudian dicalonkan sebagai Presiden oleh Partai Demokrat maka saya lebih memilih beliau dibandingkan kedua calon sebelumnya. Mengapa saya hanya menyebut ketiga calon di atas? Pertama, hanya ada dua calon dari Partai Demokrat yang menurut saya tepat memimpin bangsa ini; Dahlan Iskan dan Anies Baswedan. Tetapi saya harus melihat realistis, perkiraan saya Dahlan Iskan yang akan memenangkan konvensi Partai Demokrat. Beliau memiliki pendanaan yang kuat dan dukungan dari media yang dipimpinnya dibandingkan Anies Baswedan. Kedua, perkiraan saya empat besar partai yang akan memenangkan pemilu adalah PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat. Mereka akan mencalonkan Presidennya masing-masing dengan koalisi yang mereka bangun. Tetapi saya tidak melihat peluang Abu Rizal Bakrie, Capres yang diusung Partai Golkar ini. Karena hasil-hasil survey tidak pernah menempatkannya di posisi yang bagus dan track recordnya yang buruk masih sangat berbekas dalam benak masyarakat. Ketiga, sebenarnya hasil-hasil survey menunjukkan elektabilitas Jokowi, Prabowo, Dahlan Iskan, Jusuf Kala dan Mahfud MD selalu berada dalam posisi teratas. Tetapi Jusuf Kala dengan track recordnya yang bagus sudah cukup berumur untuk dicalonkan kembali sebagai Presiden, selain karena tidak ada lagi partai yang mengusungnya. Sedangkan Mahfud MD yang juga track recordnya bagus harus berbagi suara dengan Rhoma Irama di PKB. Sehingga akan sulit untuk mengusung sendiri calon presidennya sedangkan hasil-hasil survey menunjukkan suara PKB tidak pernah dalam posisi yang bagus. Kecuali partai-partai Islam bersatu dan berkoalisi nantinya untuk mengusung Mahfud MD. Maka jika memang akhirnya hanya Jokowi, Prabowo, dan Dahlan Iskan yang maju sebagai calon presiden, saya akan memilih Dahlan Iskan sebagai Presiden RI 2014-2019. Selain karena memang kapabilitas yang beliau tunjukkan selama ini, track record yang hampir tanpa cacat, dan dukungan dari berbagai elemen yang cukup memadai, juga karena perkiraan saya beliau akan menjadi kuda hitam dalam Pilpres nanti. Kekecewaan terhadap Jokowi dan ketidaksukaan terhadap Prabowo sangat dimungkinkan mengalihkan suara rakyat kepada Dahlan Iskan.

9 April Memilih Wakil Rakyat

Namun jangan lupa, pemilihan 9 April 2014 nanti bukanlah pemilihan Presiden tetapi pemilihan legislatif untuk memilih anggota dewan untuk duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik di pusat maupun daerah. Para wakil rakyat ini mempunyai fungsi legislasi untuk membentuk ratusan undang-undang bersama Presiden, fungsi anggaran untuk membahas dan menyetujui 2000an triliun dana APBN yang diajukan Presiden, dan fungsi pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan pengunaan APBN tersebut. Bayangkan jika fungsi-fungsi tersebut dijalankan oleh anggota dewan yang suka makan uang rakyat. Maka bangsa Indonesia akan tetap miskin di atas negeri yang kaya ini. Jadi pemilihan 9 April 2014 nanti janganlah pilih partai karena calon presidennya, tetapi pilihlah partai yang berisi calon-calon wakil rakyat dengan track record yang bersih. Maka tidak perlu saya keluarkan indeks prestasi partai yang juara korupsi lalu melabelinya dengan logo KPK atau ICW, tetapi check & re-check lah sendiri, pasti anda akan temukan belangnya.

Kobarkan Semangat Indonesia

Sampai saat ini saya masih menjatuhkan pilihan pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Para calon wakil rakyatnya lebih memiliki track record yang jelas dengan kemampuan yang saya yakin sangat mumpuni dalam fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan jika terpilih sebagai anggota DPR nanti. Selain karena visi & misi partai yang sejalan dengan saya, juga karena semangat perbaikan yang dikobarkan partai tersebut merupakan semangat perbaikan yang holistik, mulai dari perbaikan individu sampai dengan perbaikan Indonesia yang lebih baik bahkan dunia yang lebih baik. Walau setahun terakhir partai ini harus menghadapi badai yang menghempaskan presiden partainya karena pencatutan namanya untuk impor sapi, harapan besar masih ada dari partai ini. Masih sangat banyak caleg-caleg berkualitas yang bersih yang bisa dipilih dari partai ini. Sedangkan partai-partai lain yang hampir tidak terkena isu korupsi yang berasal dari anggota legislatifnya, terutama Partai Nasdem sebagai partai baru pada Pemilu kali ini, menurut saya hanya mengandalkan figur pemimpin partainya untuk maju sebagai calon anggota legislatif. Lebih dari itu karena memang semangat ideologis dari partai tersebut yang tidak sejalan dengan saya.

Alternatif Pemimpin..

Jika target PKS untuk masuk ke dalam 3 besar yang memenangkan pemilu 9 April nanti berhasil dicapai. Maka perkiraan saya dalam pencalonan presiden seperti yang saya urai di atas pasti berubah. Akan ada alternatif lain dari PKS yang saat ini masih mencalonkan 3 kadernya untuk menjadi presiden; Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, & Ahmad Heryawan, yang perkiraan saya pada akhirnya PKS akan mencalonkan Ahmad Heryawan (Aher) sebagai calon presiden. Menurut saya, Aher lah yang sudah berpengalaman selama satu periode penuh memimpin Jawa Barat dengan ratusan penghargaan yang diterimanya sampai hari ini di periode keduanya sebagai Gubernur Jawa Barat. Sehingga Aher dapat diunggulkan dalam hal ini, bahkan tanpa isu-isu negatif yang dapat menjatuhkannya dalam pencalonannya nanti. Beliau, sangat mungkin menjadi Kuda Hitam dalam pemilihan presiden nantinya.
Atau pun jika tidak ada partai-partai Islam yang masuk dalam 3 besar dalam Pileg 9 April nanti, maka masih ada alternatif lain jika pada akhirnya partai-partai Islam bersatu membentuk koalisi untuk mencalonkan presidennya sendiri. Alternatif-alternatif ini baru akan terlihat tergantung dari hasil pemilihan legislatif 9 April nanti.

Pemilih yang Cerdas

Maka, jadilah pemilih yang cerdas, yang memilih pemimpin tidak hanya karena popularitasnya saja, tetapi memilih karena kemampuan yang dimilikinya untuk memimpin dengan track record yang baik. Tetapi sekali lagi ingat, Pemilu 9 April nanti adalah pemilihan legislatif bukan pemilihan presiden. Jadi pilihlah wakil rakyat yang yang tepat yang memiliki kualitas dan dapat mewakili aspirasi anda di DPR nanti.

Harapan itu masih ada, dan semoga melalui tulisan ini bangsa Indonesia menjadi lebih baik kedepannya.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: