Rich Dad Poor Dad


Seperti biasa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, menjelang Hari Raya Idul Adha seringkali wacana-wacana tentang bisnis jual beli hewan qurban bergaung luar biasa. Beberapa teman di kantor saya bekerja pun juga asyik terlibat dalam pembicaraan mengenai bisnis ini dalam seminggu terakhir ini. Saya tidak termasuk yang tidak tertarik terlibat pembicaraan di dalamnya. Keuntungan yang didapat dari bisnis ini memang menarik jika hitung-hitungan di atas kertas. Tetapi sebagaimana bisnis-bisnis yang lainnya, realita resiko yang dihadapi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitulah mental bisnis yang ditanamkan oleh Bapak saya.

“orang Bima itu tidak pandai bisnis Man!”, kata Bapak saya. Lalu beliau tunjukkan dengan cerita panjang lebarnya yang begitu meyakinkan tentang contoh-contoh dari saudaranya, keponakannya, atau teman sekampungnya yang saya kenal, yang mencoba menjalankan bisnis apapun itu bentuknya tapi gagal. Bapak saya ini persis seperti Poor Dad yang dijabarkan oleh Robert T. Kiyosaki di dalam bukunya Rich Dad Poor Dad. Beliau selalu menanamkan tentang mendapat penghasilan yang aman dan nyaman untuk hari tua, bukan tentang bagaimana mengambil resiko dan melipat gandakan keuntungan selagi muda.

Faktanya pun memang demikian, kalau melihat realita orang Bima kebanyakan, biasanya kalau tidak menjadi PNS, Guru/Dosen, Polisi atau TNI, atau jadi pegawai di sebuah perusahaan, selain menjadi petani di kampung halamannya sendiri tentunya.

Maka cerita tentang bisnis jual beli hewan qurban, hewan aqiqahan, atau supply daging sapi yang cukup menggiurkan, sementara ini skip dulu dari cerita jalan hidup saya, selama block mental yang ditanamkan Bapak saya ini masih menggelayut didalam pikiran.

Apalagi cerita-cerita ini tergantikan dengan keriangan-keriangan mereka di kampung halaman sana yang mendapat hewan qurban yang kami salurkan. Melihat foto-foto saat penyembelihan qurban, diawali dengan doa-doa yang dipanjatkan, dan diiringi dengan takbir yang dikumandangkan, juga merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

https://ibnualwi.wordpress.com/tag/qurban-di-bima/

Sehingga setiap kali telepon berdering lalu kemudian bapak saya bertanya, “Man, ada lagi nggak tahun ini teman-teman kamu yang mau qurban di Bima?”, hmmm, rasanya berat hati saya ingin menjawab, “lagi sibuk di proyek nih pak, skip dulu urus qurban tahun ini”.

Belum lagi para pequrban yang merasa terbantukan dengan biaya qurban yang terjangkau, karena hewan qurban langsung beli di sekitar lokasi dari tempat penyembelihan, sehingga biaya transportasi dapat ditekan sedemikian rupa.

Akhirnya, di kesempatan kali ini saya kembali menawarkan kepada para handai taulan sekalian yang ingin disalurkan qurbannya di Bima & sekitarnya, silahkan mengisi form pada link di bawah ini.

https://docs.google.com/forms/


Semoga cerita-cerita ini akan menjadi cerita bersambung sampai di surga kelak…aamiin..

 

Pekanbaru,

23-08-2016

Firmansyah Alwi

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: